Salam TOSS Pertamina Patra Niaga
TANGERANG (17/12/2025)– Yayasan Dana Mitra Lingkungan (DML) bersama comestoarra mengimplementasikan program inovasi pengelolaan sampah terintegrasi hasil kolaborasi dengan PT Pertamina Patra Niaga dan Pemerintah Kota Tanggerang. Program ini menggabungkan Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) dengan Distributed Hybrid Renewable Energy for Community Solutions (DHYRECS) yang diimplemnetasikan di Bank Sampah Melati Kampung Sirih, Tanggerang. TOSS dan DHYRECS yang diimplementasikan, sesuai dengan detailed engineering design yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat ini Kementerian Lingkungan Hidup)
PT Pertamina Patra Niaga menjadi perusahaan pertama yang mengimplementasikan TOSS dan DHYRECS dalam ‘satu atap’. Dengan kapasitas pengolahan 1-2 ton sampah per hari dan daya listrik hibrida sebesar 30 kW, PT Pertamina Patra Niaga berkontribusi pada pengolahan sampah dan pemanfaatannya menjadi energi skala komunal, mewujudkan program yang berkelanjutan sehingga dapat direplikasi di seluruh Bank Sampah kota Tanggerang pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
TOSS yang diinisiasi oleh Dr. Ir. Supriadi Legino, memproses biodegradable material menjadi bahan bakar terbarukan padat / Solid Renewable Fuel (SRF). SRF selanjutnya dikonversi menjadi synthetic gas malelui proses gasifikasi untuk selanjutnya menjadi bahan bakar untuk menggantikan bahan bakar minyak pada generator listrik. Listrik yang dihasilkan disimpan di dalam baterai dan selanjutnya dilakukan hibrida dengan panel surya sehingga mampu menggerakkan seluruh operasional mesin secara mandiri. Selain itu, SRF juga dapat digunakan untuk bahan bakar alternatif untuk memasak.
Dengan kompor biomassa yang dikembangkan oleh Fadjar Goembira dari Universitas Andalas (GoemVor), maka warga Kampung Sirih dapat memasak sejumlah masakan tradisional, seperti Ayam Begana, Pindang Cencuan, dan Sayur Besan yang memasaknya membutuhkan waktu lebih dari 3 jam. Menariknya, byproduct dari proses gasifikasi dan GoemVor adalah arang.
Secara teori, pelet dengan volatile meter yang tinggi dikonversi menjadi synthetic gas dan menyisakan fixed carbon. Dalam sejumlah uji laboratorium, fixed carbon meningkat dari 15-20 persen menjadi 50-55 persen. Selain itu kalori juga meningkat dari rata-rata 3.500 – 3.800 kcal/kg menjadi 4.200 – 4.500 kcal/kg. Dari pengamatan yang dilakukan oleh anggota Asosiasi Biochar Indonesia Internasional, Bangun Adi Wijaya, arang dari hasil gasifikasi dari TOSS masuk dalam kategori baik. Ahli biochar yang pernah menjadi peneliti di Korea Institute of Energy Research ini mengatakan bahwa tipikal arang TOSS dapat digunakan sebagai media tanam, campuran pupuk kompos, filter air, hingga bahan bakar untuk co-firing baik di PLTU atau boiler industri tekstil. Namun, validasi terkait arang ini harus dikaji lebih lanjut sehingga mampu menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat di kemudian hari.


