Seminar Nasional dengan tema
“Pengelolaan Industri Sawit Secara Berkelanjutan dalam rangka Konferensi dan Rapat Kerja Nasional Badan Kerjasama Pusat Studi Lngkungan (BKPSL) dan Forum Pimpinan Pascasarjana (FORPIMPAS) Wilayah Barat"
Penyediaan energi primer di Indonesia saat ini masih didominasi oleh bahan bakar fosil terutama batubara, yakni mencapai 42% di tahun 2022. Sementara itu, penyediaan energi baru dan terbarukan (EBT) baru menyentuh angka 12,3% di tahun 2022, sehingga akan sulit mencapai target bauran EBT nasional sebesar 23% pada tahun 2025 (Indonesia Energy Outlook, 2023). Oleh karena itu, Indonesia perlu melakukan akselerasi dalam implementasi EBT pada industri dan sektor pembangkit listrik dengan menggunakan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan sebagai substitusi batubara untuk mencapai target Net Zero Emission pada tahun 2060.
Residu biomassa berupa limbah industri dan perkebunan sawit menjadi salah satu potensi sumber daya alternatif bahan bakar terbarukan di Indonesia karena jumlahnya yang melimpah dan diproyeksikan akan terus meningkat karena pertumbuhan industri sawit. Pada tahun 2022, total produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) mencapai 46,82 juta ton dan terus tumbuh dengan perkiraan total luas perkebunan kelapa sawit sebesar 15,34 juta hektar (Statistik Kelapa Sawit Indonesia, 2023). Ditambah lagi dengan target pemerintah untuk mencapai 78,35 juta ton produksi CPO nasional pada tahun 2045 (Webinar Grant Riset Sawit 2025). Sebagai konsekuensi, produksi besar-besaran ini akan menimbulkan potensi limbah yang melimpah karena dari satu pohon kelapa sawit hanya 10%-nya minyak sawit, dan sisanya masih dianggap sebagai biomassa yang masih belum banyak dimanfaatkan (Jafri dkk., 2021).
Di pabrik kelapa sawit (PKS), terdapat 4 jenis limbah yang dihasilkan setiap hari. Dari bahan baku 1 ton tandan buah segar (TBS), diperoleh limbah 210 kg tandan kosong (tankos), 140 kg serat mesokarp, 60 kg cangkang sawit, dan yang terbesar adalah limbah cair atau palm oil mill effluent (POME) sebesar 580 kg (BPDPKS, 2018). Cangkang sawit dan serat mesokarp sebagian besar sudah dimanfaatkan langsung oleh PKS untuk dibakar di dalam tungku boiler karena memiliki kandungan air yang cukup rendah. Dengan nilai kalornya yang tinggi, cangkang sawit telah dimanfaatkan untuk co-firing oleh sejumlah PLTU di Indonesia sejak tahun 2021 dan menjadi komoditi ekspor (GAPKI, 2023). Sedangkan limbah tankos masih memerlukan perhatian lebih dalam pengolahannya.
Berbeda dengan cangkang sawit, pembakaran langsung tankos pada boiler pembangkit listrik menimbulkan banyak permasalahan seperti asap hitam karena kadar airnya yang sangat tinggi, yakni dapat mencapai 65% (BPDPKS, 2018). Namun sering dijumpai pada praktiknya di PKS di wilayah Sumatera, tankos hanya dibakar langsung di dalam insinerator (tungku bakar) dimana abu sisa pembakarannya akan dijadikan pupuk di kebun sawit. Ironinya, insinerator tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pengendali emisi yang baik, sehingga menyebabkan pencemaran udara dari asap yang langsung 2 dilepas ke atmosfer. Untuk itu, perlu adanya perbaikan pola pemanfaatan tankos, khususnya pada pabrik-pabrik yang masih menggunakan insinerator tersebut.
Sedangkan pada perkebunan sawit, terdapat dua jenis limbah, yaitu pelepah dan batang sawit. Untuk mendapatkan sebuah TBS saat panen, setidaknya dua buah pelepah sawit harus potong setiap hari (Zahari dkk., 2014). Praktik ini membuat pelepah sawit tersedia setiap hari dan menjadi limbah paling melimpah dari kegiatan produksi CPO, yaitu mencapai 70% dari total biomassa kelapa sawit yang dihasilkan (BPDPKS, 2020). Sedangkan batang sawit baru ditebang pada saat peremajaan (replanting) setelah pohon sawit berusia sekitar 25 tahun. Potensi limbah pelepah sawit yang cukup besar ini belum banyak dieksplorasi oleh para pemangku kepentingan. Pelepah sawit biasanya hanya dibiarkan membusuk di perkebunan untuk dijadikan pupuk alami bagi tanah oleh para petani sawit.
Seminar ini bermaksud untuk mendiskusikan solusi bagi kebutuhan energi non fosil, yang sekaligus dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh industri sawit terkait limbah yang belum terkelola secara maksimal. Diharapkan dari hasil seminar ini akan terbentuk sebuah ekosistem bisnis di mana limbah industri sawit diolah menjadi sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk menggantikan bahan bakar fosil yang selama ini dipakai oleh industri atau pembangkit listrik.
Seminar nasional ini juga dilakukan seiring dengan pelaksanaan dua kegiatan, yaitu: Rapat Kerja Nasional Badan Kerjasama Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) dan Pertemuan Forum Pimpinan Pascasarjan (Forpimpas) Wilayah Barat.
Dokumentasi:




Waktu Kegiatan : 31 Juli 2025
Lokakarya internasional yang diselenggarakan di Kota Padang pada 8 Januari 2025 membahas peningkatan sirkularitas dan pengelolaan sampah perkotaan dengan tujuan menerjemahkan rencana aksi menjadi program implementasi, berbagi pengetahuan, dan memfasilitasi pembelajaran bersama antar kota dan pemangku kepentingan. Lokakarya ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan seperti pemerintah kota, akademisi, industri, dan masyarakat, serta menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Diskusi mendalam dan konsensus antar pemangku kepentingan menjadi fokus utama dalam mewujudkan transformasi pengelolaan sampah perkotaan. Lokakarya ini diharapkan dapat mendukung pencapaian target Zero Waste 2050 dan memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan sampah perkotaan yang berkelanjutan. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, keynote session, panel diskusi, dan sesi ringkasan yang merumuskan langkah implementasi konkret. Topik bahasan mencakup kebijakan nasional, peluang pembiayaan, inovasi pengelolaan sampah, dan pengembangan infrastruktur hijau di tingkat kota. Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk implementasi proyek percontohan dan perluasannya di tingkat kota, serta mendorong kolaborasi dan inovasi dalam pengelolaan sampah. Lebih dari 100 peserta hadir secara langsung dan hampir 200 peserta bergabung secara daring, menunjukkan tingginya minat dan dukungan terhadap upaya peningkatan sirkularitas dan pengelolaan sampah perkotaan.
Dokumentasi :
Foto : Foto Bersama

Foto Pembukaan Oleh Rektor Universitas Andalas

Foto tanya jawab bersama Keynote Speaker

Foto bersama Narasumber pada panel sesi 1

Foto penyampaian materi dari narasumber pada saat penel sesi 2

Foto Closing ceremony oleh Mrs. Miho Hayashi (Program Manager of IGES- CCET)
Sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomor 258 Tahun 2021 tentang RENSTRA DEN Tahun 2021-2025, salah satu program kegiatannya adalah menyusun analisis neraca energi nasional. Sehingga kegiatan analisis neraca energi nasional merupakan bagian dari tugas Sekretariat Jenderal DEN yang dilakukan bersama dengan Anggota Pemangku Kepentingan (APK) DEN. Penyusunan analisis neraca energi nasional dilakukan untuk memberikan informasi tentang neraca energi tahun 2023 dan perkembangan pasokan dan kebutuhan energi nasional dalam periode tahun 2018-2023.
Neraca energi adalah gambaran keseimbangan antara pasokan berbagai sumber energi dan penggunaan energi dalam periode tertentu (Pasal 20 Huruf C, UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi). Dalam Neraca Energi seluruh konsumsi energi harus dapat dipenuhi dari penyediaan energi, baik berasal dari produksi sendiri maupun dari impor.
Analisis neraca energi nasional merupakan analisis terhadap seluruh aspek yang berpengaruh dalam pemenuhan kebutuhan energi secara nasional. Data dan analisis terhadap neraca energi nasional secara periodik harus terus tersedia guna memberikan gambaran yang utuh dalam mempersiapkan langkah-langkah strategis maupun kebijakan kebijakan terkait, yang diharapkan dapat saling terintegrasi dalam meningkatkan peran masing-masing jenis energi dalam mendukung Pembangunan nasional serta menjamin ketersediaan energi di masa yang akan datang. Kondisi neraca energi Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan baik dari sisi pasokan energi primer, transformasi energi, penggunaan sendiri dan losses, pasokan energi final, dan konsumsi energi final. Apabila dibandingkan kondisi energi selama lima tahun terakhir pasokan energi primer dari tahun 2018 hingga 2023 mengalami kenaikan dari 205 juta TOE menjadi 259 juta TOE atau meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 4,8% per tahun. Sementara bauran energi primer dalam 5 tahun terakhir menunjukkan perubahan yang cukup signifikan khususnya mengenai peran minyak yang menurun dari 38,7% tahun 2018 menjadi 29,9% di tahun 2023 dan peran energi baru terbarukan (EBT) naik dari 8,6% tahun 2018 menjadi 13,3% tahun 2023. Naiknya peran EBT terutama dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) dan peningkatan pemanfaatan EBT dalam pembangkit listrik, serta mulai diperhitungkannya pemanfaatan EBT untuk biomassa industri, pemanfaatan langsung panas bumi dan pemanas air tenaga surya. Konsumsi energi final pada tahun 2023 termasuk non energy dalam periode tahun 2018-2023 tumbuh rata-rata 6,5% per tahun dan mencapai 171 juta TOE. Pada tahun 023, sektor industri menjadi pengguna energi final terbesar yang mencapai 77,9 Juta TOE (45,6%), diikuti sektor transportasi sebesar 62,8 juta TOE (36,7%) dan sektor rumah tangga sebesar 21,1 juta TOE (12,4%), sektor komersial sebesar 7,6 juta TOE (4,4%) dan sektor lainnya sebesar 1,5 juta TOE (0,9%). Berdasarkanjenisnya konsumsinya, energi final terbesar adalah batubara (25,6%) diikuti BBM (21,3%) dan listrik (15,6%). Dominasi sektor industri terhadap permintaan energi pada tahun 2023 didorong oleh naiknya konsumsi batubara. Sejalan dengan komitmen Pemerintah untuk mencapai NZE pada tahun 2060, maka permasalahan batubara sebagai sumber energi fosil yang dimanfaatkan di Indonesia terutama untuk sektor industri dan pembangkit listrik menjadi sangat penting untuk didiskusikan. Oleh karena itu untuk memperoleh masukkan terhadap penyusunan laporan neraca energi dan pemanfaatan batubara di Indonesia perlu dilakukan diseminasi di beberapa akademisi, salah satunya di Universitas Andalas.
Dokumentasi:

Foto Penyerahan Bersama dan Penyerahan buku dari Diseminasi Informasi Neraca Energi Nasional

Foto Diskusi antara PSLH, Rektor Universitas Andalas, dan Diseminasi Informasi Neraca Energi Nasional
Page 2 of 2